Oleh : Uti Konsen.U.M.
Seluruh jemaah haji, pasti mengharapkan meraih haji mabrur. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Wal hajjul mabrur laisa lahu jazaa-un illal jannah “- Haji mabrur itu tak ada balasannya kecuali surga. Berkenaan dengan hadis tentang kemabruran haji itu ada riwayat yang menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat Nabi SAW yang menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu. “ Wamaa birrul hajji ya Rasulullah?“. “Apakah kemabruran haji ya Rasulullah?“ Dan ternyata jawaban Rasulullah saw tidak berhubungan dengan thawaf, sa’i dan sebagainya itu. Tetapi , justru yang ada hubungannya dengan pergaulan dengan sesama jamaah yang sama-sama beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan.
Bila riwayat ini dianggap dhaif, kilah A.Mustofa Bisri dalam bukunya ‘Membuka Pintu Langit‘ kita masih bisa menyimak sunnah Rasul saat melakukan ibadah haji. Bagaimana sikap tawadu’, kemurahan, kelembutan dan hal-hal lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba Tuhan dan teposliro beliau kepada hamba-Nya. Misalnya dalam mencium Hajar Aswad itu, hukumnya paling tinggi adalah sunnah, tetapi ada di antara mereka sampai tega menyikut saudara-saudara mereka sendiri kanan kiri. Bagaimana melakukan sunnah dengan berbuat yang haram? Nah jika ingin haji mabrur, jagalah hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama hamba Allah, lanjut A.Mustofa Bisri.
Seluruh jemaah haji, pasti mengharapkan meraih haji mabrur. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Wal hajjul mabrur laisa lahu jazaa-un illal jannah “- Haji mabrur itu tak ada balasannya kecuali surga. Berkenaan dengan hadis tentang kemabruran haji itu ada riwayat yang menyebutkan adanya pertanyaan para sahabat Nabi SAW yang menyebut-nyebut tentang haji mabrur itu. “ Wamaa birrul hajji ya Rasulullah?“. “Apakah kemabruran haji ya Rasulullah?“ Dan ternyata jawaban Rasulullah saw tidak berhubungan dengan thawaf, sa’i dan sebagainya itu. Tetapi , justru yang ada hubungannya dengan pergaulan dengan sesama jamaah yang sama-sama beribadah, seperti menebarkan salam dan memberikan pertolongan.
Bila riwayat ini dianggap dhaif, kilah A.Mustofa Bisri dalam bukunya ‘Membuka Pintu Langit‘ kita masih bisa menyimak sunnah Rasul saat melakukan ibadah haji. Bagaimana sikap tawadu’, kemurahan, kelembutan dan hal-hal lain yang menunjukkan penyerahan diri beliau sebagai hamba Tuhan dan teposliro beliau kepada hamba-Nya. Misalnya dalam mencium Hajar Aswad itu, hukumnya paling tinggi adalah sunnah, tetapi ada di antara mereka sampai tega menyikut saudara-saudara mereka sendiri kanan kiri. Bagaimana melakukan sunnah dengan berbuat yang haram? Nah jika ingin haji mabrur, jagalah hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama hamba Allah, lanjut A.Mustofa Bisri.